Mengapa Pendidikan Selalu Jadi Lahan Basah Korupsi? “Anggaran Besar, Faktor Utama Celah Lebar”

Reporter By Chandra

Lhokseumawe| Catur Prasetya News – Di balik wajah pendidikan yang kerap dipuja sebagai fondasi masa depan bangsa, ada persoalan serius yang terus menggerogoti dari dalam: korupsi. Sektor yang seharusnya paling bersih dan berpihak pada kepentingan anak-anak justru berulang kali masuk daftar merah praktik rasuah.

Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat, meski jumlah kasus terlihat menurun, korupsi di dunia pendidikan nyaris tak pernah keluar dari lima besar sektor paling rawan korupsi—sebuah ironi yang menampar kesadaran publik, sekaligus memunculkan pertanyaan besar: benarkah masalahnya mereda, atau justru semakin lihai bersembunyi?

Korupsi Sektor Pendidikan Butuh Perhatian Publik


Berikut ini Lima Besar Sektor Rawan Korupsi di sektor Pendidikan

Praktik korupsi di sektor pendidikan ternyata merupakan bagian dari pola yang lebih luas dan sistemik, yang berulang di berbagai lini pengelolaan negara.

Untuk memetakan kerentanannya, lembaga antikorupsi melihat persoalan ini dalam konteks lintas sektor—dan hasilnya menunjukkan bahwa pendidikan berada dalam lingkaran yang sama dengan sektor-sektor strategis lainnya yang selama ini paling rentan disusupi praktik rasuah.

Berdasarkan temuan dan analisis Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) serta ICW, terdapat lima sektor yang secara konsisten menjadi langganan praktik korupsi, yakni sektor perdagangan dan sumber daya alam seperti migas dan pertambangan, sektor keuangan dan perbankan, pengadaan barang dan jasa, pelayanan publik dan pemerintahan, serta sektor pendidikan yang masih rawan penyalahgunaan anggaran dan wewenang.

Editorial Chandra


Peneliti ICW Almas Sjafrina mengungkapkan, lembaganya baru saja merilis laporan tren korupsi pendidikan 2024 pada awal Desember lalu. Berdasarkan temuan ICW, sektor pendidikan tercatat tidak pernah keluar dari lima besar sektor dengan kasus korupsi tertinggi dari tahun ke tahun.

Dalam laporannya, ICW mencatat sepanjang 2024 terdapat 25 kasus korupsi di sektor pendidikan dengan jumlah tersangka sekitar 60 orang. Adapun nilai kerugian negara akibat praktik tersebut mencapai Rp105 miliar. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, angka ini memang menunjukkan penurunan yang cukup signifikan.

Sektor pendidikan konsisten berada dalam lima besar sektor paling rawan korupsi berdasarkan catatan ICW dan KPK.


ICW mencatat 25 kasus korupsi pendidikan pada 2024 mengakibatkan kerugian negara mencapai Rp105 miliar.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan anggaran besar rentan korupsi karena minim transparansi dan konflik kepentingan.


Dalam laporannya, ICW mencatat sepanjang 2024 terdapat 25 kasus korupsi di sektor pendidikan dengan jumlah tersangka sekitar 60 orang. Adapun nilai kerugian negara akibat praktik tersebut mencapai Rp105 miliar. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, angka ini memang menunjukkan penurunan yang cukup signifikan.

“Kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya, di bawah 50 persen,” kata Almas.

Meski demikian, Almas menegaskan penurunan jumlah kasus tersebut tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai membaiknya kondisi sektor pendidikan dari praktik korupsi. Menurutnya, tren serupa juga masih terjadi pada 2025.


ICW menilai, penurunan angka kasus justru perlu dibaca lebih kritis. Almas menyebut berkurangnya jumlah perkara bisa berkaitan dengan kinerja penindakan aparat penegak hukum, bukan karena praktik korupsi di sektor pendidikan benar-benar menurun.

“Kami melihat lebih dalam, sebenarnya bukan korupsi sektor pendidikan yang turun, tetapi kinerja penindakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum,” tegasnya.

Editorial Chandra

Karena itu, ICW mengingatkan publik agar berhati-hati dalam membaca data penurunan kasus korupsi pendidikan. Lembaga ini justru menemukan masih banyak celah baru praktik korupsi di sektor pendidikan, baik dalam skala kecil maupun besar.

Editorial Chandra
17/9/2026

Diterbitkan oleh chandracpnews

Media Catur Prasetya News adalah media warga pembelajaran hukum yang adil dan beradab

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai